Jujur
saja semenjak kita menjalin sebuah hubungan aku merasa aku adalah wanita yang
paling beruntung karena bisa memilikimu. Semua berakhir begitu cepat selang 3
hari kita pacaran dan kau memutuskan ku dengan alasan yang tidak masuk akal. Aku
tidak yakin dengan alasanmu, dan aku sangat yakin kau memutuskanku karena ada
wanita lain yang lebih dari aku. aku tak habis fikir, kau yang memulainya dan
kau juga yang mengakhirinya.
Awalnya aku
tidak pernah mempunyai perasaan kepadamu. Aku hanya menganggap mu sebagai
teman. Sudah itu saja, tidak lebih. Dan mungkin kau yang memiliki perasaan itu
duluan.
Hari
berlanjut aku masih terus memikirkan mu. Aku pikir kita akan menjalin hubungan
dengan jangka waktu yang lama. Yaaa, mau gimana lagi. Mungkin bukan jodohnya.
Tapi jujur saja sampai detik ini nama mu masih mengiang saja di telingaku.
Aku malas,
iya aku malas bertemu dengan mu. Aku tidak suka kau datang dalam fikiranku. Aku
tidak suka kau menyapa ku. Tapi aku selalu memperhatikanmu. Bodoh? Memang. Aku
sangat bodoh memperhatikan orang yang sama sekali tidak memperhatikanku.
Aku fikir aku
terlalu mencintaimu, aku terlalu terobsesi denganmu. Dan aku terlalu munafik karena aku selalu
berkata “TIDAK” setiap kali teman-teman membicarakanmu. Jujur saja aku belum
sepenuhnya berpindah ke lain hati. Semua ini karena kau “yang mebuat aku jatuh
cinta padamu”
Aku tak yakin
kita akan bersatu lagi, bukan hanya tak yakin tapi “tidak akan mungkin”
bagaimana kita akan menyatu kalau sikap mu kepada ku saja seperti teman yang
tidak ada kedudukannya. Mungkin sebagai mantan kita enggak bakal jadi teman
sepenuhnya? Bisa jadi bisa jadi.
0 komentar:
Posting Komentar